[REVIEW NOVEL] Second Sister (Putri Kedua)

Ketika Internet Jadi Alat Pembunuhan



Judul: Second Sister (Putri Kedua)

Penulis: Chan Ho-Kei

Alih bahasa: Reita Ariyanti

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman : 632

Sinopsis:

Nga-Ye tidak menyangka seusai pulang kerja dirinya mendapati sosok adik yang tergeletak bersimbah darah di dekat gedung tempat tinggalnya. Siu-Man memutuskan untuk mengakhiri nyawanya dengan melompat dari jendela rumahnya di lantai 20. Merasa enggan untuk percaya dugaan bunuh diri yang dilayangkan polisi, Nga-Ye berusaha mencari tahu kebenaran terkait kasus tersebut melalui detektif swasta, sampai akhirnya Nga-Ye dipertemukan dengan N, seorang peretas yang memiliki kemampuan mumpuni terkait dunia teknologi dan internet –awal masalah Siu-Man bermula— dibantu N, Nga-Ye berusaha memecahkan misteri terkait kematian adiknya dan menemukan jawaban atas pertanyaan ‘apakah Siu-man benar-benar bunuh diri atau dibunuh?’

Review:

Ini kali pertama saya membaca novel penulis Chan Ho-Kei, dan kesan awal saat membaca paragraf pembuka adalah ‘mengalir dan mudah dipahami gaya tulisannya.’ Penggunaan pov 3 terbatas membuat saya merasa lebih dekat dengan tokoh yang dihadirkan di setiap bab.

Second Sister dibuka dengan prolog kejadian tepat setelah Au Siu-man melompat dari lantai dua puluh. Mundur untuk memperkenalkan keluarga Au dan akhirnya sampai pada masalah utama yang disinyalir polisi menjadi penyebab Siu-man memutuskan mengakhiri hidupnya.

Saya akan sedikit memberikan bocoran terkait awal cerita dalam novel ini.

*Spoiler alert*

Beberapa waktu sebelum memutuskan bunuh diri Au Siu-man mengalami sebuah kejadian tak mengenakkan di kereta. Seseorang melakukan pelecehan seksual terhadapnya dan membuatnya merasa ketakutan. Kendati demikian seseorang rupanya menyadari pelecehan yang terjadi pada gadis itu dan melaporkan kasus tersebut pada polisi serta membawa terduga pelaku ke kepolisian. Siu-man dan Nga-Ye mengira kasus tersebut selesai setelah pengakuan pelaku di persidangan.

Namun, rupanya masalah malah berlanjut setelah sebuah postingan muncul di Popcorn (social media yang mungkin mirip facebook) yang ditulis oleh orang yang mengaku sebagai keponakan pelaku pelecehan, dan berisi tuduhan kalau Siu-man hanya menuduh pelaku karena memiliki dendam pribadi setelah perselisihan yang terjadi sebelumnya dengan pelaku.

Postingan tersebut bahkan menyebutkan Siu-man melakukan tindakan tidak senonoh dan melayangkan berbagai tuduhan yang menyudutkan. Tidak sampai sehari postingan itu viral dan dibanjiri komentar jahat terhadap Siu-Man. Hal itu membuat Siu-man semakin tertekan, apalagi data pribadinya bahkan disebar luaskan.

Nah, atas dasar itu, Nga-Ye mulai berpikir kalau orang-orang di internet lah yang membunuh adiknya. Dia pun berambisi untuk menemukan pemilik akun dari postingan yang membuat masalah Siu-Man kian membesar dan membuat adiknya meninggal.

Di sini, meskipun menggunakan alur maju mundur melalui kilas balik, saya sama sekali tidak merasakan kesulitan. Narasi yang mudah dipahami dan jelas perpindahan alurnya memudahkan pembaca untuk mengetahui apakah itu flashback atau masa kini.

Kasus Siu-Man pun terbilang rumit karena pada kenyataannya, untuk melacak akun yang memposting tuduhan terhadap Siu-man tidaklah mudah. Ada seseorang yang memiliki keahlian teknologi di balik postingan tersebut.

Karakter Nga Ye selaku kakak Siu Man digambarkan sebagai perempuan tangguh karena harus berperan sebagai kepala keluarga setelah kematian ibunya. Dia juga penyayang dan berusaha membahagiakan adiknya yang merupakan satu-satunnya keluarga yang tersisa di hidupnya. Itulah kenapa kepergian Siu-man yang tiba-tiba menjadi pukulan besar bagi Nga-Ye. Nga-Ye bahkan tak ragu menghabiskan banyak uang untuk menemukan keadilan bagi Siu-Man dengan mencari sosok di balik akun yang mencemarkan nama adiknya.

N digambarkan sebagai seorang hacker andal sekaligus detektif yang pemilih dalam menerima kasus. Sebuah keberuntungan bagi Nga-Ye bisa bekerja sama dengan orang seperti N. Pria nyentrik dengan gaya bicara ceplas-ceplos ini cukup memorable dalam pikiran saya. Pemikirannya yang kadang bengkok dan kadang bijak membuat saya sedikit mengernyitkan dahi.

N dengan segala pemikirannya yang reasonable memiliki peran yang sangat krusial dalam cerita, bahkan bisa dibilang mendominasi. Nga-Ye dengan segala pertanyaan dan kecurigaannya selalu dijelaskan dengan sabar oleh N. Jujur saja saya sedikit heran, orang seperti N mau menjelaskan hal sedetail itu pada Nga-Ye. Kolaborasi keduanya –N si jenius teknologi dan Nga-Ye si gaptek yang banyak tanya—membuat saya betah dengan novel setebal 600 halaman lebih ini.

Kesimpulan:

Second Sister memiliki gaya tulisan yang mengalir dari awal hingga akhir, misteri yang dihadirkan sangat rapi, alur yang kompleks, page turner, dan plot twist yang membuat saya berdecak adalah alasan saya merekomendasikan kalian untuk membaca karya Chan Ho-Kei yang satu ini.


Rating: 4,7


NB (Fav quotes)

"Internet hanyalah alat. Orang-orang atau hal-hal bisa dibuat jadi baik atau jahat, seperti pisau bisa dipakai membunuh."


"Manusia takkan pernah mau mengakui bahwa mereka makhluk egois. Kita bicara tanpa henti tentang moral dan keadilan, tapi begitu kita terancam kehilangan apa yang kita miliki, kita kembali pada kemampuan untuk bertahan hidup. Itu manusiawi. Yang lebih parah, kita suka mencari-cari alasan –kita bahkan tidak cukup berani untuk mengakui tindakan egois kita sendiri. Dengan kata lain, kemunafikan.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW BUKU] Kesetiaan Mr. X

[REVIEW DRAKOR] Jirisan : Pesona Mistis Gunung Jiri